MEMAKNAI HARI LAHIR PANCASILA

MEMAKNAI HARI LAHIR PANCASILA

LiraNews, Jakarta -- Genap 74 tahun silam PANCASILA dicetuskan oleh sang Proklamator Bung Karno yang isinya adalah sebagai berikut;

1. Kebangsaan 
2. Internasionalisme atau Perikemanusiaan, 
3. Demokrasi 
4. Keadilan Sosial
5. Ketuhanan Yang Maha Esa.

Kelima butir sila-sila tersebut disampaikan oleh Bung Karno di hadapan peserta sidang umum Dokuritsu Junbi Cosakai, atau Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada tanggal, 1 Juni 1945.

Sidang BPUPKI ini sebenarnya di buka secara resmi pada tanggal, 28 Mei 1945, tetapi baru memulai sidang pertamanya pada tanggal, 29 Mei 1945.

Usulan Bung Karno tersebut tidak langsung di setujui dan ditetapkan menjadi dasar atau landasan bernegara bangsa Indonesia.

Tepat pada tanggal, 9 Juni 1945, BPUPKI membentuk Tim Sembilan yang anggotanya terdiri dari bung karno, bung Hatta, AA Maramis, Abikusno Tjokrosoejoso, Abdulkahar Muzakir, Agus Salim, Ahmad Soebardjo, Wahid Hasyim, dan Muhammad Yamin.

Hingga bertepatan pada hari Jumat, tanggal, 22 Juni 1945 tim Sembilan mulai merumuskan lima landasan bernegara bangsa Indonesia hasil pemikiran bung karno tersebut. Di hari dan tanggal inilah pada akhirnya tim Sembilan berhasil merumuskan kelima dasar bernegara bangsa Indonesia dengan merubah susunan atau urutan dan rangkaian katanya sebagaimana berikut;

1. Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Kemudian sejarah mencatat rumusan tersebut sebagai Piagam Jakarta. Bung Karno adalah salah satu orang yang memperjuangkan isi Piagam Jakarta ini agar dapat diterima oleh BPUPKI sebagai dasar negara. 

Sejarang panjang bangsa Indonesia dalam merumuskan dasar negara untuk memperoleh kemerdekaannya tidak berhenti sampai disini, sebab tujuh kata yang tertulis pada sila pertama Piagam Jakarta itu mendapat tentangan dari perwakilan Indonesia bagian timur. Menurut mereka dasar negara itu harus mewakili semua golongan, sementara butir pertama piagam Jakarta tersebut cenderung ke salah satu golongan saja, yaitu golongan islam.

Bung Karno memilih menyingkir dari perdebatan antara golongan islam yang ingin mempertahankan tujuh kata yang tertulis pada butir pertama piagam Jakarta dengan golongan nasionalis yang menginginkan tujuh kata tersebut dihapus.

Pada akhirnya tepat sehari sete

Tags: nasional
Redaksi

Penulis: Redaksi

KANTOR REDAKSI :
Graha Perwira, Gd. Gajah Blok AQ
Jl. Dr. Saharjo No. 111 Tebet
Jakarta Selatan 12810


Iklan Tengah Detail Foto Berita 665x140px

Berita Terkait


Komentar Via Facebook


Profil LIRANEWS.COM

LiraNews adalah media online Indonesia yang menyajikan berita terbaru di seluruh indonesia , kebanyakan media online di bangun dari perusahaan besar atau di bangun oleh orang-orang media , Tetapi kami adalah sekumpulan mahasiswa Perguruan tinggi di Jakarta yang senang dengan dunia internet . LiraNews bukanlah yang pertama bergerak di bidang media portal online , Tetapi kami yakin akan senantiasa memberikan yang terbaik untuk [...]

Facebook

Twitter