I LA, TANRI, DAN PETTA, GELAR BANGSAWAN BUGIS DAN DEWA TERTINGGI DI MASA KUNO

I LA, TANRI, DAN PETTA, GELAR BANGSAWAN BUGIS DAN DEWA TERTINGGI DI MASA KUNO

Luwu, Liranews.com --  Bagi orang-orang di Sulawesi selatan, bentuk "I La" bisa dikatakan merupakan bentuk bahasa yang sudah sangat kuno. Bentuk predikat ini umumnya kerap terlihat digunakan pada penyebutan nama kitab terpanjang di dunia " I La Galigo".

Sebenarnya, hingga hari ini, "I" sebagai bentuk predikat masih umum digunakan. Contohnya pada orang Bugis, ketika menyebut nama seseorang. Contoh: I Baso, I Besse, dll. Bentuk "I" dapat pula kita temukan digunakan orang-orang di Bali, ditempatkan di depan nama, seperti; I Made, I Wayan, dsb.

Sementara itu, bentuk "La" nampaknya pada hari ini lebih dianggap orang di Luwu sebagai gelar sesungguhnya dari para bangsawan, dianggap digunakan oleh para bangsawan sebelum gelar "Andi" menjadi lebih populer.

Hal lain yang menarik tentang "I La" adalah karena ternyata bentuk predikat ini rupa-rupanya telah digunakan pula dalam peradaban Akkadia Kuno dan Amorite. Frank Moore Cross (1973) dalam bukunya "Canaanite Myth and Hebrew Epic - Essay in the History of the Religion of Israel" menjelaskan sebagai berikut: ...ila adalah bentuk ejaan dari nama ilahi yang mana banyak ilmuwan memilih bentuk normalnya sebagai / ilah /. (...) menunjukkan bentuk predikat dalam Amorite dan Akkadia Kuno. Ila atau Il adalah dewa utama dari Mesopotamia pada periode Pra-Sargonik.

Dalam tata bahasa, predikat merupakan bagian kalimat yang menandai apa yang dikatakan oleh pembicara tentang subjek. Kata predikat berasal dari bahasa Latin praedicatum yang artinya: "apa yang dibicarakan". Dalam rumpun bahasa Indo-Eropa, predikat harus mengandung unsur verba (kelas kata yang menyatakan suatu tindakan, keberadaan, pengalaman, atau pengertian dinamis lainnya). Dari pemahaman prinsip tata bahasa ini, kita dapat melihat adanya kemiripan penggunaan bentuk "La" di dalam aksen bahasa Luwu dengan penggunaan bentuk "La" atau "El" dalam bahasa spanyol.

Contohnya, untuk mengatakan "si bodoh", orang spanyol menyebut "el estupido", orang Luwu menyebut "la baga" (yang menarik kata "baga" yang dalam bahasa tae berarti "bodoh," sama dengan kata "baka" dalam bahasa jepang yang juga berarti "bodoh" - kata ini biasanya kita temukan diucapkan dalam film kartun manga, serta juga sering dilontarkan Lara Croft dalam film Tomb Raider).

Demikianlah, penggunaan bentuk "La" dalam aksen Luwu bisa dikatakan tidak ada bedanya dengan penggunaan bentuk "La" atau "El" dalam bahasa Spanyol, Hanya saja dalam bahasa spanyol terdapat pembagian peruntukan, "El" untuk kata benda maskulin, sementara "La" untuk versi feminin. Di dalam tradisi Luwu sendiri pun diken

Tags:
Redaksi

Penulis: Redaksi

KANTOR REDAKSI

 

 

 


Graha Perwira, Gd. Gajah Blok AQ
Jl. Dr. Saharjo No. 111 Jakarta Selatan


Iklan Tengah Detail Foto Berita 665x140px

Berita Terkait

Form Komentar



Masukan 6 kode diatas :

huruf tidak ke baca? klik disini refresh


Komentar Via Facebook


Profil LIRANEWS.COM

Dewan Pengarah :  Mayjen TNI (Purn) Arief Siregar, SH, MH, M.Sc • Mayjen TNI (Purn) Zulfahmi Rizal, M.Sc • Dr. H. Syahrial Yusuf, SE, MM • Prof, Dr, Ir, Marsudi W. Kisworo, M.Sc • Prof, Dr, Ahmad Mubarok Dewan Redaksi :  Drs. HM. Jusuf Rizal, SE, M.Si • M Husnie • Mustaqin Ishak • Ahmad Hadariy, S.Ag Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi : Indra Lesmana Wakil Pemimpin Redaksi : M. [...]

Facebook

Twitter