IDRIS LAENA: TOLERANSI TIDAK SEKADAR KEWAJIBAN, TAPI KEBUTUHAN

IDRIS LAENA: TOLERANSI TIDAK SEKADAR KEWAJIBAN, TAPI KEBUTUHAN

LiraNews, Jakarta -- Kalaulah Dubai Square yang dibangun di Dubai Creek Harbour, yang luasnya 100 kali lapangan sepak bola dengan biaya pembangunan USD 2 Miliar atau 29,26 Triliun dan di claim sebagai mall terbesar didunia, maka akan menjadi tonggak sejarah baru peradaban umat manusia yang selama ini hanya percaya bahwa toleransi bisa terbangun  jika kultur yang berbeda bisa dibuat harmoni.

Sebetulnya,tidak ada yang istimewa dari Dubai Mall itu,karena lazimnya pusat perbelanjaan pasti akan menampilkan toko yang menawarkan aneka produk. Akan tetapi karena Dubai Mall di rancang sebagai lokasi China town terbesar di dunia, maka menjadi tidak lazim khususnya bagi kawasan di timur tengah.

Saya jadi merenung bahwa ternyata pemahaman kita tentang toleransi selama ini perlu digali lebih dalam Lagi. Bagaimana tidak, sejak di sekolah dasar dulu di tanamkan bahwa toleransi itu hakikatnya jika kita bisa menerima perbedaan, menghormati teman yang berbeda agama, Suku dan budaya, maka itulah Toleransi. Kewajiban yang harus dijalankan sebagai warga negara Indonesia yang heterogen,dan diperkuat dengan Simbol BHINNEKA TUNGGAL IKA. yang artinya biarpum kita berbeda-beda tapi tetap satu.

Dunia terus berkembang dan maju.TOLERANSI tidak lagi sekadar kewajiban.tapi toleransi menjadi kebutuhan, dan melebar kepada berbagai aspek kehidupan ummat manusia.

Dibidang Ekonomi misalnya, bagaimana suatu Negara seperti Uni Emirat Arab di Dubai yang tidak terlalu besar itu justru melihat pentingnya membangun kawasan China town terbesar didunia karena kebutuhan untuk menyambut kunjungan wisatawan China,yang memang dikenal sebagai negara dengan wisatawan terbesar didunia.

Bagaimana dengan kita Indonesia? Bukankah kita punya Chinatown yang dikenal dengan Glodok itu? Kini pelan-pelan redup dan tidak lagi berkembang.

Barangkali torehan sejarah kelam yng kita lalui, membuat kita trauma. Sehingga membuat kita seakan membentengi diri. dan mulai terus berpikir untuk menutup akses ekonomi yang luas bagi Saudara-saudara kita keturunan tionghoa yang memang menguasai Ekonomi kita.

Seandainya kita memahami secara mendalam Pasal 33 Ayat 1 Undang-undang dasar 1945.Barangkali itu tidak perlu terjadi.

Bukankah pasal itu menyebutkan bahwa Perekonomian Nasional disusun sebagai Usaha bersama berdasarkan Azas kekeluargaan,yang sebetulnya menyiratkan Bahwa. Setiap warga negara punya Hak dan kewajiban untuk ikut berpartisipasi dalam Perekonomian Nasional.

Founding Father kita memang luarb. menggunakan Frasa DISUSUN (bukan diatur atau ditata),yang menyiratkan bahwa p

Tags:
Redaksi

Penulis: Redaksi

KANTOR REDAKSI

 

 

 


Graha Perwira, Gd. Gajah Blok AQ
Jl. Dr. Saharjo No. 111 Jakarta Selatan


Iklan Tengah Detail Foto Berita 665x140px

Berita Terkait

Form Komentar



Masukan 6 kode diatas :

huruf tidak ke baca? klik disini refresh


Komentar Via Facebook


Profil LIRANEWS.COM

Dewan Pengarah :  Mayjen TNI (Purn) Arief Siregar, SH, MH, M.Sc • Mayjen TNI (Purn) Zulfahmi Rizal, M.Sc • Dr. H. Syahrial Yusuf, SE, MM • Prof, Dr, Ir, Marsudi W. Kisworo, M.Sc • Prof, Dr, Ahmad Mubarok Dewan Redaksi :  Drs. HM. Jusuf Rizal, SE, M.Si • M Husnie • Mustaqin Ishak • Ahmad Hadariy, S.Ag Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi : Indra Lesmana Wakil Pemimpin Redaksi : M. [...]

Facebook

Twitter