KAHMI JAYA: ERA KEPEMIMPINAN AHOK-DJAROT, KONDISI JAKARTA PADA 2017 BURUK

KAHMI JAYA: ERA KEPEMIMPINAN AHOK-DJAROT, KONDISI JAKARTA PADA 2017 BURUK

Jakarta, LiraNews.com --Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam DKI Jakarta Raya (KAHMI Jaya)  menilai, pembangunan Jakarta sepanjang Januari-15 Oktober 2017, atau sepanjang era pemerintahan Ahok yang dilanjutkan Djarot, tidak menunjukkan peningkatan berarti, bahkan cenderung memburuk.

Penilaian itu tertuang dalam kajian berdasarkan delapan tren dan kondisi obyektif yang dituangkan dalam rilis bertajuk "Refleksi Akhir Tahun 2017 KAHMI Jaya" yang disebarkan melalui media sosial.

Kedelapan tren dan kondisi obyektif tersebut adalah kemacetan; penggusuran; keamanan; ruang publik dan terbuka hijau; pedagang kaki lima (PKL); pelacuran dan Narkoba; pendidikan (KJP Plus) dan kesehatan (KJS Plus); dan (8) reklamasi.

"Untuk kemacetan, pada 2017 sangat parah, di samping karena masih rendahnya tingkat kedisiplinan masyarakat dalam berlalu lintas, juga karena dipicu kegiatan konstruksi infrastruktur yang dilakukan dalam waktu bersamaan, namun tanpa dilengkapi dokumen Amdal Lalu Lintas (Lalin)," jelas Ketua Umum KAHMI Jaya  Muhammad Taufik dalam rilisnya.

Taufik mengatakan kalau ada 10 proyek pembangunan infrastruktur yang dimulai di era Ahok yang tidak memiliki Amdal Lalin, sehingga terjadi kemacetan luar biasa di titik lokasi pembangunan dan di jalan-jalan di sekitarnya.

"Imbas pembangunan ini makin parah karena selama pembangunan dilakukan,  tak ada pengaturan manajemen trafik. Bahkan kerusakan jalan eksisting di samping tapak proyek, dibiarkan berlangsung, sehingga menganggu kenyamanan dan keamanan pengguna jalan," imbuh Taufik.

Untuk masalah penggusuran, KAHMI Jaya mencatat, selama era Ahok dan Djarot pada 2017, juga pada 2016, ribuan kepala keluarga (KK) kehilangan tempat tinggal akibat penggusuran paksa dan tanpa ganti rugi. 

Rakyat hasil penggusuran paksa ini sebagian dipindahkan ke Rusunawa (rumah susun sewa), tetapi setelah batas gratis pembayaran sewa dilewati, mereka tidak sanggup membayar sewa bulanan, sehingga total tunggakan tercatat mencapai Rp1,3 miliar, dan sebagian besar dari korban penggusuran itu kini tidak lagi tinggal di Rusunawa.

"Salah satu penyebabnya adalah karena Rusunawa yang mereka tempati berada jauh dari lokasi dimana semula mereka tinggal, sehingga setelah direlokasi, banyak dari mereka yng justru kehilangan mata pencaharian dan terus mengalami penurunan taraf hidup akibat pendapatan yang menjadi lebih kecil dari kebutuhan. Mereka butuh waktu lebih lama untuk menyesuaikan diri dengan pekerjaan dan lingkungan baru," jelas Taufik.

Di bidang keamanan, KAHMI Jaya juga mencatat hal

Tags:
Redaksi

Penulis: Redaksi

KANTOR REDAKSI :
Graha Perwira, Gd. Gajah Blok AQ
Jl. Dr. Saharjo No. 111 Jakarta Selatan


Iklan Tengah Detail Foto Berita 665x140px

Berita Terkait

Form Komentar



Masukan 6 kode diatas :

huruf tidak ke baca? klik disini refresh


Komentar Via Facebook


Profil LIRANEWS.COM

Dewan Pengarah : Mayjen TNI (Purn) Arief Siregar, SH, MH, M.Sc • Mayjen TNI (Purn) Zulfahmi Rizal, M.Sc • Dr. H. Syahrial Yusuf, SE, MM • Prof, Dr, Ir, Marsudi W. Kisworo, M.Sc • Prof, Dr, Ahmad Mubarok Dewan Redaksi : Drs. HM. Jusuf Rizal, SE, M.Si • M Husnie • Mustaqin Ishak Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi :Drs. HM. Jusuf Rizal, SE, M.Si Wakil Pemimpin Redaksi :M. [...]

Facebook

Twitter