PESAN NATAL INKONSISTEN DAN TIDAK PANCASILAIS

PESAN NATAL INKONSISTEN DAN TIDAK PANCASILAIS

Jakarta, LiraNews.com -- Indonesia adalah surga bagi minoritas. Tidak hanya itu, kaum LGBT, bandar narkoba, raja miras dan perampok ratusan triliun uang BLBI pun dibiarkan bebas berkeliaran.

Suatu keadaan yang menggambarkan panorama kehidupan berbangsa makin tidak elok. Lebih spesifik tentang harmoni dan kerukunan umat beragama masih dipertontonkan atas dasar aneka kamuflase.

Padahal meski tidak dibumbui oleh opini yang liar, kenyataan eratnya kebersamaan umat beragama berlangsung apa adanya. Tetapi lucunya, tanpa membuat kehebohan, perayaan Natal seolah menjadi tidak afdol.

Dari situasi itu, wajar bila muncul kecurigaan bahwa isu kecemasan jelang Natal dan Tahun Baru punya dua tujuan. Yakni, rekayasa opini dan proyek pengamanan yang menguras uang negara.

Ihwal keanehan itu tanpa disadari memberi kesan Natal tak sekedar ritual keagamaan, namun telah menjadi gerakan politik yang sangat norak. Disebut norak lantaran kegiatan ibadah telah dicemari oleh prasangka dan ketakutan yang dibuat-buat.

Lebih konyol lagi, Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjahjanto secara vulgar mengumumkan bahwa: "Tugas pengamanan (Natal) yang kita laksanakan mempertaruhkan citra TNI-Polri".

Demi target pencitraan, sang Marsekal terpaksa menguras uang negara untuk menerjunkan 80 ribu prajurit TNI. Emangnya ada ancaman huru-hara, teroris dan konflik antar umat beragama?

Fakta menunjukan tanpa adanya mobolisasi alat-alat negara, perayaan Natal toh berjalan aman dan damai. Sebab terbukti di luar pagar gereja, umat Islam bersikap ramah dan jauh lebih toleran serta bermartabat.

Kalaupun ada gangguan keamanan, hanyalah perbuatan seglintir orang. Pelakunya bisa jadi diduga justru berasal dari kelompok binaan misionaris. Atau oknum yang mengaku muslim, hindu atau budha dan sebagainya.

Merujuk pada kasus peledakan bom Mall Alam Sutera Tangerang, Banten pada tahun 2015 lalu, pelakunya bernama Leopard Wisnu Kumala, beragama Katolik. Tapi lucunya dominasi jaringan media anti Islam tidak menyebutnya sebagai teroris.

Patut direnungkan, kejahatan dan rasa ketakutan adalah dua hal yang saling melengkapi. Golongan manapun yang dihantui oleh ketakutan perlu diperjelas, sehingga tidak menyiram fitnah kepada umat agama lainnya.

Sekali lagi, di luar pagar gereja, umat Islam sebagai warga mayoritas di negeri ini sangat santun, bijak dan telah berkontribusi besar dalam menciptakan kedamaian. Umat Islam sangat menghargai perbedaan dan anti diskriminasi!

Tapi mengapa setiap perayaan Natal kaum minoritas selalu terkepung oleh rasa ketakutan. Bukanka

Tags:
Redaksi

Penulis: Redaksi

KANTOR REDAKSI :
Graha Perwira, Gd. Gajah Blok AQ
Jl. Dr. Saharjo No. 111 Jakarta Selatan


Iklan Tengah Detail Foto Berita 665x140px

Berita Terkait

Form Komentar



Masukan 6 kode diatas :

huruf tidak ke baca? klik disini refresh


Komentar Via Facebook


Profil LIRANEWS.COM

Dewan Pengarah : Mayjen TNI (Purn) Arief Siregar, SH, MH, M.Sc • Mayjen TNI (Purn) Zulfahmi Rizal, M.Sc • Dr. H. Syahrial Yusuf, SE, MM • Prof, Dr, Ir, Marsudi W. Kisworo, M.Sc • Prof, Dr, Ahmad Mubarok Dewan Redaksi : Drs. HM. Jusuf Rizal, SE, M.Si • M Husnie • Mustaqin Ishak Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi :Drs. HM. Jusuf Rizal, SE, M.Si Wakil Pemimpin Redaksi :M. [...]

Facebook

Twitter