LAWAN POLITIK PRESIDEN JOKOWI, SIAPA?

LAWAN POLITIK PRESIDEN JOKOWI, SIAPA?

Jakarta, LiraNews.com - Kemarin dalam sebuah acara bersama Kamar Dagang dan Industri atau KADIN Indonesia, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo kembali melontarkan pernyataan-pernyataan yang mengandung makna dan membawa pesan kegelisahan dan mungkin bernilai sebuah kemarahan dari Presiden. Sebuah ketidak senangan bila tak layak disebut kemarahan, namun yang pasti Presiden tampak tidak suka dan tidak senang dengan berita tentang penurunan daya beli masyarakat.

Yang kedua, pernyataan Presiden tentang terorist justru dari kita. Presiden seolah menjustifikasi dan memberikan stigma bahwa Bangsa ini adalah Bangsa penghasil terorist. Hanya untuk membenarkan visa bebas kebijakan politiknya, Presiden tanpa rasa kuatir membenarkan bangsa ini bangsa terorist dengan menyebut Justru terorist kan dari kita. Menyedihkan, karena pernyataan presiden ini akan mengamini tudingan asing yang menuduh Indonesia negara radikal dan penghasil terorist.

Unik memang meski cenderung asal bicara, pernyataan itu dikeluarkan seorang Presiden. Meski kedua pernyataan itu menarik dibahas, namun kali ini Saya memilih membahas kata Lawan Politik yang dituduhkan Presiden sebagai penyebab munculnya berita tentang penurunan daya beli masyarakat. Presiden tampaknya merasa bahwa penurunan daya beli masyarakat itu hanya isu yang digoreng, bukan fakta dan bukan realita ditengah publik.

Inilah keprihatinan paling dalam ketika seorang presiden ternyata tidak bisa merasa dan hanya bisa merasa. Orang Jawa bilang, harus biso rumongso ojo rumongso biso. Sebagai seorang Jawa, tanpa bermaksud rasis, mestinya petuah-petuah leluhur seperti itu harus diingat. Agar tidak selalu merasa bisa tapi harus lebih bisa merasa.

Pertanyaan yang kemudian muncul dari sini adalah, Siapa Lawan Politik yang dimaksud oleh Presiden Jokowi? Mengapa  Presiden tidak juga bisa merasakan penurunan daya beli masyarakat? Mengapa Presiden tidak juga bisa merasakan beban bertambah berat yang dirasakan rakyat? Mestinya semua ini dengan mudah dirasakan Presiden karena rajin blusukan dan bagi-bagi sepeda kerakyat. Tapi mengapa Presiden tak bisa merasakan? Ini aneh..!! Tampaknya Presiden lebih banyak dapat bisikan dari Politisi tentang keadaan ekonomi daripada masukan dari ekonom yang mandiri. Jika itu benar, menjadi wajar ketika Presiden menuding Lawan Politik sebagai penebar berita tentang penurunan daya beli masyarakat.

Bisikan politisi itu jugalah yang mungkin membuat Presiden Jokowi lupa dan tidak percaya bahwa Badan Pusat Statistik Negara pernah merilis data hasil survei BPS tentang penurunan daya beli masyarakat.

Tags:
Redaksi

Penulis: Redaksi

KANTOR REDAKSI :
Graha Perwira, Gd. Gajah Blok AQ
Jl. Dr. Saharjo No. 111 Jakarta Selatan


Iklan Tengah Detail Foto Berita 665x140px

Berita Terkait

Form Komentar



Masukan 6 kode diatas :

huruf tidak ke baca? klik disini refresh


Komentar Via Facebook


Profil LIRANEWS.COM

LiraNews adalah media online Indonesia yang menyajikan berita terbaru di seluruh indonesia , kebanyakan media online di bangun dari perusahaan besar atau di bangun oleh orang-orang media , Tetapi kami adalah sekumpulan mahasiswa Perguruan tinggi di Jakarta yang senang dengan dunia internet . LiraNews bukanlah yang pertama bergerak di bidang media portal online , Tetapi kami yakin akan senantiasa memberikan yang terbaik untuk [...]

Facebook

Twitter