PANCASILA, NASIONALISME, MATERIALISME dan RADIKALISME

PANCASILA, NASIONALISME, MATERIALISME dan RADIKALISME

Jakarta, LiraNews.com - Jika nasionalisme dan Pancasila, diramaikan oleh simbol dan jargon saja, Nanti Nasionalisme dan Pancasila jadi materialisme,.. Ia kehilangan esensi spiritualitasnya.

Tidak mengherankan, sekarang ini banyak orang secara "ujug~ujug" mengklaim dirinya sebagai nasionalis dan Pancasilais, padahal aslinya hanyalah seorang materialistis.
Ini adalah konsekuensi logis ketika bangsa ini terlalu bersemangat membangun infrastruktur dan terlalu yakin pekerjaan fisik dapat mengeluarkan Indonesia dari ketertinggalan.
Kecondongan ini harus diingatkan. Pancasila itu keseimbangan, jika tak harus dibilang lebih condong kepada spiritual religius.

Jangan kaget, nanti muncul nasionalis fundamentalis dan pancasilais fundamentalis. Saya menyebutnya pula sebagai Pseudo Nasionalis yang buta historis. Mereka inilah yang menciptakan intoleransi yang dapat merusak kebhinekaan bangsa Indonesia, NKRI dan Pancasila itu sendiri.

Sekali lagi saya mengingatkan, Pancasila adalah kompromi Nasionalisme dan Islam. Dimana ada kelegawaan umat Muslim utk melakukan katabolisme untuk tidak memunculkan keislamannya tetapi pada hubbul wathon~nya,...kecintaan pada tanah airnya, sehingga tak masalah ketika kebangsaan dimunculkan pada aras bernegara. Bagi Muslim kecintaan pada tanah air adalah kewajiban keagamaanya.

Hiruk pikuk belakangan ini, mestilah adil dilihatnya. Kekisruhan sosial politik yang ada jangan cuma menuding, oleh adanya kelompok agama yang dipandang radikal. Saya tak memungkiri itu ada, tetapi itu hanya sesuatu kelompok kecil saja, yang oleh mekanisme keumatan, insya Allah akan bisa diselesaikan oleh umat Islam itu sendiri. Intervensi oleh pemerintah nampaknya justru tidak efektif. Penyelesaian tidak melulu oleh positivisme hukum, tetapi oleh kultural dan pendekatan agama itu sendiri. Oleh karena itu Ulama dan pemimpin informal keagaamaan akan jauj lebih disegani menyentuh dibanding aparatus keamanan dan birokrasi.

Masyarakat pun harus difahamkan bahwa kekisruhan juga disebabkan oleh kelompok radikal lain, yaitu para pseudo pancasilais. Mereka bertindak memaksakan cara berpikir, sebagai mana "pssudo" pada umumnya mereka tidak menggunakan fisik tetapi provokasi mentalitet lewat simbol dan jargon. Membebaskan penafsiran pancasila semacam ini pun tidak kalah bahayanya. Pancasila tidak bisa dikooptasi oleh mereka. Pertanyaan sederhananya adalah, siapakah yang sudah mengkonfirmasi dan melegalisasi cara berpikir pancasila seperti mereka. Saya kira Pancasila harus kembali dirumuskan secara bersama dengan niat yang tulus, bukan untuk kepentingan sesaat dan kepentinga

Tags:
Redaksi

Penulis: Redaksi

KANTOR REDAKSI :
Graha Perwira, Gd. Gajah Blok AQ
Jl. Dr. Saharjo No. 111 Jakarta Selatan


Iklan Tengah Detail Foto Berita 665x140px

Berita Terkait

Form Komentar



Masukan 6 kode diatas :

huruf tidak ke baca? klik disini refresh


Komentar Via Facebook


Profil LIRANEWS.COM

Dewan Pengarah :  Mayjen TNI (Purn) Arief Siregar, SH, MH, M.Sc • Mayjen TNI (Purn) Zulfahmi Rizal, M.Sc • Dr. H. Syahrial Yusuf, SE, MM • Prof, Dr, Ir, Marsudi W. Kisworo, M.Sc • Prof, Dr, Ahmad Mubarok Dewan Redaksi :  Drs. HM. Jusuf Rizal, SE, M.Si • M Husnie • Mustaqin Ishak • Ahmad Hadariy, S.Ag Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi : Indra Lesmana Wakil Pemimpin Redaksi : M. [...]

Facebook

Twitter