PUASA DAN KESEHATAN PSIKIS

PUASA DAN KESEHATAN PSIKIS

Jakarta, LiraNews.com - Dari sisi psikis, orang yang berpuasa pada bulan Ramadhan cenderung merasa tenang dan damai. Setiap orang berusaha untuk menahan amarahnya dan tingkat kejahatan pada bulan Ramadhan biasanya menurun. Umat Islam senantiasa mengingat nasehat Nabi Muhammad SAW, beliau mengatakan,

Jika sesesorang menghujatmu atau menyulut emosimu, katakanlah bahwa saya sedang berpuasa. (Al Hadits)  

Meningkatnya kualitas psikis inilah yang berkaitan dengan stabilitas gula darah yang lebih baik selama bulan Ramadhan, yang berpengaruh pada perubahan tingkah laku. Begitu juga dengan kebiasaan sholat malam. Sholat bukan hanya bermanfaat bagi penyerapan makanan, tapi juga untuk melepaskan energi. Setiap sholat dengan gerakan-gerakannya yang ringan seseorang melepaskan 10 ekstra kalori. Dengan kombinasi itu, sholat menjadi semacam olahraga yang cukup baik selama Ramadhan. Sama halnya dengan kebiasaan membaca Al-Qur’an, bukan hanya membuat hati dan pikiran tenang, tapi juga bisa menjaga hapalan Al-Qur’an. Puasa adalah bentuk peribadahan khusus, hubungannya hanya antara Allah SWT dan orang yang bersangkutan. Karena tidak satupun yang selain Allah SWT dan orang itu sendiri yang tahu apakah ia benar-benar berpuasa.

Peranan puasa kaitannya dengan psikologis adalah jalan untuk dapat mengendalikan diri. Pengendalian diri adalah salah satu syarat utama bagi jiwa yang sehat, dan manakala pengendalian diri seseorang terganggu maka akibatnya akan timbul berbagai reaksi kelainan, baik dalam alam fikir, alam perasaan maupun alam perilaku bersangkutan, dan juga berpengaruh pada kesehatan fisik. Reaksi yang ditimbulkannya tidak saja menimbulkan subyektif pada dirinya tetapi juga dapat mengganggu lingkungan serta orang lain di dekatnya. Islam mensyari’atkan puasa dengan maksud agar manusia dapat hidup yang lebih baik, khususnya untuk menjaga psikologis manusia agar tidak mudah terganggu. Puasa sebagai suatu cara yang terbaik untuk menguatkan jiwa dengan cara mengendalikan syahwat supaya tidak melampui batas.

Puasa secara psikologis dapat dipahami secara aksiologi, yaitu puasa bisa menjadi suatu cara untuk melatih kedisiplinan manusia. Puasa juga merupakan latihan ajaran moral yang paling tinggi dalam kehidupan manusia dan sekaligus bisa menjadi tahap pembelajaran, bahwa sesungguhnya manusia untuk mendapatkan suatu kenikmatan yang hakiki, maka sebelumnya harus diawali dengan berhadapan dengan suatu penderitaan dan berusaha dengan sungguh dapat melintasi cobaan tersebut, daripada tenggelam ke dalam apa yang tidak diperbolehkan kepa

Tags:
Redaksi

Penulis: Redaksi

KANTOR REDAKSI :
Graha Perwira, Gd. Gajah Blok AQ
Jl. Dr. Saharjo No. 111 Jakarta Selatan


Iklan Tengah Detail Foto Berita 665x140px

Berita Terkait

Form Komentar



Masukan 6 kode diatas :

huruf tidak ke baca? klik disini refresh


Komentar Via Facebook


Profil LIRANEWS.COM

Dewan Pengarah :  Mayjen TNI (Purn) Arief Siregar, SH, MH, M.Sc • Mayjen TNI (Purn) Zulfahmi Rizal, M.Sc • Dr. H. Syahrial Yusuf, SE, MM • Prof, Dr, Ir, Marsudi W. Kisworo, M.Sc • Prof, Dr, Ahmad Mubarok Dewan Redaksi :  Drs. HM. Jusuf Rizal, SE, M.Si • M Husnie • Mustaqin Ishak • Ahmad Hadariy, S.Ag Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi : Indra Lesmana Wakil Pemimpin Redaksi : M. [...]

Facebook

Twitter