SELAMAT DATANG PARA MUALAF PANCASILA, MARHABAN

SELAMAT DATANG PARA MUALAF PANCASILA, MARHABAN

Jakarta, LiraNews.com - Mualaf adalah sebuah kata merujuk kepada nonmuslim yang berpindah keyakinan menjadi Islam. Kata yang berasal dari bahasa Arab itu telah diserap dalam bahasa Indonesia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebut sebagai “orang yang baru masuk Islam”.

Dalam agama Kristen mereka disebut sebagai domba-domba yang tersesat dan kembali berkumpul dengan gembalanya, Yesus Kristus. Intinya adalah mereka yang baru beriman dan kembali ke jalan kebenaran.

Terminologi dalam agama tersebut sangat pas untuk menggambarkan fenomena menarik yang tengah terjadi di Indonesia sepanjang perhelatan Pilkada DKI 2017.

Prosesnya tidak mendadak sontak, tapi lumayan panjang. Diawali dari sebelum masa kampanye, menjadi sangat ramai saat kampanye berlangsung dan imbasnya masih terus terjadi hingga saat ini. Momentumnya kian menaik bersamaan dengan peringatan hari lahirnya Pancasila 1 Juni.

Jadi jangan heran bila mendapati teman, saudara, tetangga, kenalan, kawan di kantor, atasan, ataupun orang yang sedang bermusuhan dengan Anda, tiba-tiba statusnya di medsos berubah dengan lambang Garuda Pancasila dalam kombinasi warna merah putih.

Simbol-simbol NKRI, kebhinekaan, toleransi dan berbagai atribut nasionalisme lainnya menggantikan profile picture, foto-foto narsis, foto mobil-mobil mewah atau foto hewan piaraan yang selama ini selalu menghiasi berbagai platform medsos mereka.

Namanya juga orang “baru beriman”, semangatnya sedang sangat menggebu-gebu. Mereka biasanya merasa lebih beragama, lebih beriman dibandingkan orang yang sudah lebih dulu beriman.

Mereka merasa lebih Pancasila, lebih NKRI, lebih bhineka, lebih toleran dibandingkan orang yang sejak lama telah ber-Pancasila.

Tidak perlu sebal, tidak perlu marah. Kita malah harus mensyukuri “domba-domba yang tersesat” itu kembali ke gembalanya. Bila terlalu lama tersesat dan tidak dalam rombongan, mereka bisa dimakan serigala.

Dalam Islam para mualaf ini harus disantuni, diayomi. Pada hari raya Idul Fitri mereka termasuk dalam kelompok yang berhak mendapatkan bagian zakat fitrah, supaya dapat ikut bergembira merayakan Hari Kemenangan.

Berbeda dengan orang atau kelompok yang sudah lebih dulu “beriman” dengan Pancasila. Mereka tidak perlu gembar-gembor, pasang status, apalagi merasa paling Pancasila, paling NKRI, paling bhineka. Seperti bunyi pepatah “batang padi, makin berisi, makin tertunduk”. “Air beriak tanda tak dalam”.

Tukang mengkafirkan orang lain

Biasanya ada dua jenis orang yang

Tags:
Redaksi

Penulis: Redaksi

KANTOR REDAKSI :
Graha Perwira, Gd. Gajah Blok AQ
Jl. Dr. Saharjo No. 111 Tebet
Jakarta Selatan 12810


Iklan Tengah Detail Foto Berita 665x140px

Berita Terkait


Komentar Via Facebook


Profil LIRANEWS.COM

LiraNews adalah media online Indonesia yang menyajikan berita terbaru di seluruh indonesia , kebanyakan media online di bangun dari perusahaan besar atau di bangun oleh orang-orang media , Tetapi kami adalah sekumpulan mahasiswa Perguruan tinggi di Jakarta yang senang dengan dunia internet . LiraNews bukanlah yang pertama bergerak di bidang media portal online , Tetapi kami yakin akan senantiasa memberikan yang terbaik untuk [...]

Facebook

Twitter