VOC vs AHOK, BENTUK CANGGIH DEKOLONISASI

VOC vs AHOK, BENTUK CANGGIH DEKOLONISASI

Jakarta, LiraNews.com - Bangsa ini tidak memusuhi A Hok, melainkan memusuhi jejaring kekuatan dibalik A Hok. Bangsa ini tidak memusuhi etnik Cina yg telah bergandengan tangan selama berabad abad dengan para pebisnis lokal memajukan perekonomian lokal dan nasional.

Demikian pula bangsa ini tidak memusuhi agama apapun karena pada dasarnya setiap agama berkaitan erat dengan moral etik yg memberi roh mulia sebagai bangsa yg religius. Bangsa ini sedang memperjuangkan arena kehidupan berbangsa yg damai, berkeadilan, saling menghargai diantara elemen elemen bangsa yg berwujud kebhinnekaan yg secara kodrati dimiliki. Namun bangsa ini sedang mengalamj ujian berat, atas keinginan sekelompok kecil elemen bangsa yg ingin melakukan penguasaan mutlak, dengan menyingkirkan kelompok kelompok lainnya yg telah mengorbankan segalanya demi terwujudnya Indonesia Merdeka sebagai suatu bangsa yg berdaulat penuh.

Bangsa ini membenci dan akan berjuang menentang segala bentuk Dekolonisasi moderen. Kendatipun Anis-Sandi menang, terlihat dari berbagai survey yg ada, kembali lagi bila berbagai porporsi proporsi hasil survey ini benar, pada saat ummat Islam telah bergerak pada 411 dan 212, apalagi bila kalah, maka fakta ini adalah ancaman politik kebangsaan, dapat juga dimaknai telah terjadinya pembelokan perjuangan bangsa secara serius, bila tidak ingin menyebut sebagai penghianatan yg nyata dan tidak boleh dibiarkan berlanjut, karena akan menghapus segala upaya keras para pendiri republik, serta akan menempatkan negeri ini sebagai "hinter land" China Mainland sebagai super power 15-20 tahun mendatang. Sehingga pilkada DKI hanyalah indikasi awal tumbangnya Indonesia sebagai negara yg berdaulat.

Dengan kata lain, Pembangunan "nation and character building" dan proses perjalanan kebangsaan mengalami pembelokan yg sangat membahayakan bagi seluruh bangsa secara keseluruhan. Itu sebabnya para pemimpin yg akan dipilih harus jelas silsilah idiologisnya, bukan hanya sekedar memenuhi persyaratan demokrasi utk demokrasi, melainkan demokrasi harus tunduk pada keinginan luhur para pendiri republik, yaitu memerdekakan bangsa ini, memberi kedaulatan sepenuhnya kepada bangsa yg mayoritas dan yang menderita paling parah saat proses dan pencapaian kemerdekaan sebelumnya. Sehingga terlarang, dan haram hukumnya bangsa ini mengabdi pada "alat" seperti demokrasi, melainkan hanya tunduk pada cita cita luhur yg telah ditetapkan sebelumnya oleh para pendiri republik.

Dalam kaitan ini maka pembangunan sistem rekrutmen pemimpin adalah sala satu kunci yg sangat penting untuk menjaga proses berbangsa tetap berada pada jalur

Tags:
Redaksi

Penulis: Redaksi

KANTOR REDAKSI

 

 

 


Graha Perwira, Gd. Gajah Blok AQ
Jl. Dr. Saharjo No. 111 Jakarta Selatan


Iklan Tengah Detail Foto Berita 665x140px

Berita Terkait

Form Komentar



Masukan 6 kode diatas :

huruf tidak ke baca? klik disini refresh


Komentar Via Facebook


Profil LIRANEWS.COM

Dewan Pengarah :  Mayjen TNI (Purn) Arief Siregar, SH, MH, M.Sc • Mayjen TNI (Purn) Zulfahmi Rizal, M.Sc • Dr. H. Syahrial Yusuf, SE, MM • Prof, Dr, Ir, Marsudi W. Kisworo, M.Sc • Prof, Dr, Ahmad Mubarok Dewan Redaksi :  Drs. HM. Jusuf Rizal, SE, M.Si • M Husnie • Mustaqin Ishak • Ahmad Hadariy, S.Ag Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi : Indra Lesmana Wakil Pemimpin Redaksi : M. [...]

Facebook

Twitter