LA NYALA MENYALA, GERINDRA BERPIJAR !

LA NYALA MENYALA, GERINDRA BERPIJAR !

Jakarta, LiraNews.com -- La nyala tiba-tiba bernyanyi, nada sumbangnya memekakkan gendang telinga Gerindra. La Nyala ngeluh, dimintai dana Pilkada 200 M oleh Gerindra. Angka yang menurut La Nyala lebih baik  disumbangkan untuk anak yatim.

Ah, naif sekali jika ada caleg atau Cakada komplain dimintai sumbangan. Sebutannya boleh beragam: sumbangan, mahar, bantuan parpol, subsidi politik, atau sebutan lain yang semisal. Bahkan ada parpol Islam, yang kemudian menyatakan diri sebagai parpol terbuka, menyebutnya dengan istilah "infak dakwah".

Jangan disalahkan parpolnya, jangan disalahkan ketumnya, jangan disalahkan siapapun, salahkan saja demokrasinya. Demokrasi memang sistem paling buruk dan berbiaya super mahal. Logika ringan saja, jika dalam satu daerah pemilihan ada 1500 TPS, setiap tiap TPS paling tidak membutuhkan dua saksi, setiap saksi butuh uang Saksi @ Rp. 100.000,- (inklud uang rokok, makan, kopi plus bensin motor ke TPS, minus uang lelah), maka dalam satu daerah pemilihan dibutuhkan minimal Rp. 300.000.000,-

Jika satu kabupaten atau kota terdiri dari sepuluh daerah pemilihan, maka anggaran saksi setiap pasangan membutuhkan minimal 3.000.000.000,- (tiga milyar rupiah). Ini jika paslon diusung satu parpol, setiap parpol mengirim dua saksi. Bagaimana jika satu paslon diusung 3 parpol? Tinggal Kalikan 3 saja anggaran saksi, ketemu angka Rp. 9.000.000.000,-

Ini baru ongkos saksi, satu kota belum lagi jika satu provinsi. Ada lagi biaya spanduk, baliho, kalender politik, atribut partai (bendera dan panji), leaflet, pamflet, kaos, bisa dibayangkan berapa biayanya ? Untuk kelas Pilkada kota bekasi saja, seorang calon independen berujar menebar spanduk dan poster bermodal 1 miliar, posternya tidak kelihatan. Sebarannya jarang. Ia memprediksi pasangan calon dari partai lain -dengan melihat sebaran dan ramainya spanduk- dibutuhkan setidaknya 5 miliar untuk biaya spanduk.

Bayangkan, jika Jawa barat terdiri dari 18 kabupaten dan 9 kota, maka untuk anggaran spanduk, baliho dan poster saja  dibutuhkan paling tidak 27 x 5 M, Rp. 13,5 miliar! Luar biasa.

Belum lagi biaya kampanye, biaya koordinasi, rapat, komunikasi dan transportasi, apalagi jika ditambah biaya "amplop politik" untuk para pemilih. Terbayang bukan berapa besar biaya pemilu dan Pilkada dalam demokrasi ?makanya jika ada ajuan biaya parpol untuk Pilkada 200 miliar, itu kecil sekali.

Apa boleh buat, la nyala menyala. La nyala merasa di palak, sementara Gerindra segera merespons membara. Gerindra sibuk mengklarifikasi. Gerindra membantah pernyataan la nyala.

Lan

Tags:
Redaksi

Penulis: Redaksi

KANTOR REDAKSI :
Graha Perwira, Gd. Gajah Blok AQ
Jl. Dr. Saharjo No. 111 Jakarta Selatan


Iklan Tengah Detail Foto Berita 665x140px

Berita Terkait

Form Komentar



Masukan 6 kode diatas :

huruf tidak ke baca? klik disini refresh


Komentar Via Facebook


Profil LIRANEWS.COM

Dewan Pengarah : Mayjen TNI (Purn) Arief Siregar, SH, MH, M.Sc • Mayjen TNI (Purn) Zulfahmi Rizal, M.Sc • Dr. H. Syahrial Yusuf, SE, MM • Prof, Dr, Ir, Marsudi W. Kisworo, M.Sc • Prof, Dr, Ahmad Mubarok Dewan Redaksi : Drs. HM. Jusuf Rizal, SE, M.Si • M Husnie • Mustaqin Ishak Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi :Drs. HM. Jusuf Rizal, SE, M.Si Wakil Pemimpin Redaksi :M. [...]

Facebook

Twitter